Tak terasa sudah ulang tahun yang ke-67, padahal dulu sepertinya masih seperti bayi yang baru belajar berjalan. Yap, hari ini adalah hari ulang tahun — kemerdekaan, dirgahayu Republik Indonesia yang ke-67. Dari sudut pandang umur, enam puluh tujuh itu masih kecil – mungkin setara anak-anak ABG atau mungkin lebih kecil lagi – kalau dibanding sama negara lain. Setidaknya bukan balita. Tulisan cukup ngaco menurut kaidah EYD ini akan membahas tentang kelanjutan ceritaku sebelumnya (yang ditulis dalam bahasa Inggris).

Kita mulai dari cerita yang paling menohok dulu. Beberapa bulan lalu ada kunjungan dosen salah satu universitas (baru buka) negara tetangga ke kampusku dengan program pasca-sarjana. Tertarik, aku dan kawanku ikut perkenalan universitas tersebut dan – seperti layaknya perkenalan universitas – dosen tersebut mengeluarkan blok bagan perbandingan mahasiswa asing yang ada di universitasnya. Dosen tersebut berkata untuk meyakinkan pendengar bahwa kebetulan beliau memiliki satu mahasiswa Indonesia yang di bawah bimbingannya sudah diterima kerja di luar negeri dengan gaji besar. Kami mengangguk. Namun satu kalimat inilah yang mengerutkan dahiku: beliau melanjutkan kalimatnya “… dan saya tidak yakin mereka akan kembali ke Indonesia.”

Karena menurut logika, dia sudah diterima kerja di luar negeri dan gaji besar – untuk apa kembali ke Indonesia?

Setelah kalimat tersebut dilontarkan, aku mulai berhati-hati mengobservasi pola pikir dosen negara tetangga tersebut (yang bahasa Indonesianya cukup fasih) dan menarik kesimpulan bahwa: di negara-negara tetangga sesama ASEAN, mahasiswa Indonesia yang mencari ilmu di sana adalah untuk mencari kerja perusahaan luar negeri dengan gaji besar dan enggan untuk kembali ke Indonesia. Entah dengan negara mungil yang suka mengeruk tanah Lembang. Bekas teman-teman SMAku yang sudah diwisuda di negara yang tak lebih besar dari kota Jakarta itu pun enggan kembali ke tanah air dan lebih memilih menetap di sana untuk bekerja… termasuk salah seorang saudaraku.

Mari kita tinjau kisah di atas. Benarkah kita lebih mementingkan materi daripada kembali ke tanah air dan membangun bangsa? Ya, di mata para negara tetangga-yang-cuma-beda-satu-selat-doang, inilah stereotype Indonesia. Belum ditambah suatu semprotan hebat untuk para peranakan yang melancong ke sana “Masa Orang China tak bisa bahasa Mandarin” (yang dibalas oleh 我的爸爸 “lihat dulu sejarahnya (baru boleh komentar begitu).” Ada setumpuk cerita teman-teman (yang baru pulang dari negara-yang-biasanya-kita-sebut-maling-itu) tentang bagaimana mereka diperlakukan di sana – dianggap rendah, mungkin penyebabnya karena TKI-TKW. Termasuk di dalamnya dianggap tukang bersih-bersih WC bandara atau debat hebat mengenai kunci kamar hotel dan botol minum aqua.

Cukup dengan negara-yang-sering-belanja-ke-Pasar-Baru ini. Sekarang giliran negara yang sukses membuat para fans drama berteriak saking semangatnya. Beberapa bulan setelah perkenalan universitas dari negara-yang-entah-kenapa-barangnya-kebanyakan-barang-impor-eropa, negeri-yang-masakannya-adjubilah-pedas ini membuka joint-workshop dengan departemen mesin kampusku. Di sana aku dan teman-teman lboratorium hadir dalam sesi nanomaterial – di mana para pesertanya ternyata kebanyakan bukan dari departemen mesin. Setelah para profesor universitas-yang-menciptakan-teknologi-samsung-galaxy-III ini selesai presentasi, kami terdiam. Bukan karena kami tidak mampu mengerti materi, tapi presentasi para profesor tersebut…. sangat garis besar sekali sehingga kami tak yakin kami bisa bertanya suatu hal yang bersifat teknis. Jadi kami mulai berdiskusi santai, dari keadaan negara-yang-konon-remajanya-beroperasi-plastik-semua sampai cuaca, Jakarta, tol, tiba-tiba beralih ke Borobudur, berapa jam dari Bandung-Borobudur (sepertinya mereka ingin sekali melihat salah satu keajaiban dunia Indonesia – kami sih cuma ketawa aja), tiba-tiba melengser ke Danau Toba (apa hubungannya topik Borobudur dan Danau Toba…), Gunung Galunggung, tiba-tiba beralih ke suku bangsa, agama, dan Sunda.

Mereka kagum – mata mereka berbinar-binar ketika pada saat tidak ada topik, beberapa kawan ngobrol dengan bahasa Sunda dan kemudian Indonesia — tiba-tiba kembali ke Inggris, lalu kembali ke Indonesia. Mereka nampak ‘wah’ waktu kami menjelaskan bahwa suku bangsa di Indonesia ada sangat banyak dan mereka memiliki bahasa masing-masing. Mereka tanya, jadi kalian kok bisa mengerti satu sama lain? Ya, ada satu bahasa nasional, bahasa Indonesia dong. Lalu kemudian, karena di sana ada yang memakai jilbab ada yang tidak, mereka terlihat sangat ‘waah’ kagum sekali ketika kami menjelaskan ada berbagai agama di sini dan kami saling toleran satu sama lain.

Aku tidak tahu reaksi orang-orang negara lain selain yang kusebut secara eksplisit di atas ini bagaimana. Kagum akan BHINNEKA TUNGGAL IKA dan kekayaan bangsa kita…. atau malah direndahkan. Wahai, apakah kita rela cap di jidat ini menjadi momok buruk di mata orang-orang lain? Orang-orang materialistis yang tidak mau kembali berbakti untuk negaranya. Penyumbang devisa terbesar dari hasil uang kotor rakyat. Orang-orang kasihan yang tak diterima di negaranya karena bidang mereka tidak didukung oleh pemerintah. dan lain-lain. dan sebangsanya. dan sejenisnya.

Kita sudah 67 tahun… tidak maulah kita dipanggil anak kecil terus. Anak kecil saja ingin mereka disebut dewasa, masakan kita bangga dengan sebutan “anak kecil”? Kalau kita ingin cap “dewasa”, tunjukkan pada dunia bahwa kita dewasa. Kontribusi apa yang telah kau berikan untuk Indonesia? Menulis jurnal ilmiah, mengajar, mendesain, memungut sampah, menyiram taman kota, menjadi gubernur yang bersih, tidak menyontek, berbakti pada orang tua, juara olahraga nasional… hal yang kecil pun akan menjadi sangat berarti bila kita melakukannya untuk tujuan yang benar. Bukankah tidak asing di telinga kita bahwa ada cerita tukang becak yang menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang posdoktoral? Anak desa yang dulu bermain dengan kerbau menjadi seorang dekan? (sounds familiar…) Bahkan menulis blog seperti ini dengan coretan yang (sayangnya) tidak sesuai dengan EYD  dapat menjadi sesuatu yang positif. Mungkin. Aku hanya bisa berdoa hal tersebut terjadi.

Dengan pikiran terbuka, aku berjanji: sebagai generasi penerus bangsa, aku tidak mau kami dicap rendah oleh bangsa lain. Karena itu aku akan lakukan hal terbaik (yang positif) untuk bangsa kami supaya cita-cita Indonesia Jaya akan dapat diraih beberapa tahun ke depan.

Dengan pikiran penuh hikmat, aku berdoa: semoga Tuhan, dan di saat perayaan suci bulan Ramadhan — Idul Fitri yang sebentar lagi kami lalui, mengabulkan doa kecil kami untuk bangsa kami tercinta ini dan menuntun kami ke jalan yang benar. Amin!

Intermezzo: profesorku yang pulang dari salah satu negara Asia Tengah untuk konferensi memberi oleh-oleh… coklat Belgia yang diimpor untuk Australia yang label harganya dengan mata uang Malaysia oleh-oleh dari Turki untuk orang Indonesia (penting banget hahaha).

Advertisements